Demi mencapai puncak ilmu sihir tertinggi di ranah setengah dewa, jantung Naga Merah bernama Valdrova harus dikorbankan. Berdiri sebagai eksekutor, sang penyihir justru dibuat membeku oleh ucapan terakhir makhluk legendaris itu: “Tak kusangka tunanganku sendiri yang akan datang untuk mencabut nyawaku.”
Tanpa perlawanan, tanpa amarah, Valdrova membiarkan jantungnya direnggut begitu saja. Bukannya kepuasan, kemenangan ini justru menyisakan kekosongan dan rasa bersalah yang menggerogoti jiwa sang pahlawan. Tepat di detik-detik kematian sang naga, ia akhirnya menyadari sesuatu. Di balik wujudnya yang mengerikan, Valdrova menyimpan keputusasaan purba yang begitu kelam—sebuah penderitaan mahabesar yang membuat dendam pribadinya tampak sangat kerdil dan tak berarti.







