Kukira ajalku tiba akibat terlalu banyak bekerja di Korea. Namun, saat kubuka mata, aku mendapati diriku telah masuk ke dalam novel yang kutulis sendiri, sebagai Evangeline—tokoh figuran yang bernasib tragis, dihukum mati karena terus mengusik sang protagonis wanita.
Berusaha mati-matian melarikan diri dari takdir mengerikan itu, seorang dewa brengsek yang mengaku menciptakan dunia ini dengan menjiplak novelku tiba-tiba muncul. Ia menawarkan, “Sebagai gantinya, sebutkan apa pun keinginanmu, dan akan kukabulkan.” Namun, “berkah” dari dewa sialan itu justru membuat kecantikan, kemampuan, kekayaan, bahkan seluruh latar belakangku hancur berantakan! Dan sekarang, katanya yang perlu kulakukan hanyalah menanti akhir bahagia? Omong kosong!
Situasi semakin rumit. Kai Del, putra sulung Duke yang berwajah tampan bak pahatan—yang juga (sialnya!) adalah mantan kekasih karakter Evangeline di novel—menyatakan, “Dia akan menjadi pendamping hidupku.” Belum cukup, sang Duke sendiri ikut campur, “Evangeline akan kuangkat jadi putriku dan tinggal bersama kami selamanya, dia adalah pusaka keluarga!” Ini benar-benar tidak mudah! Tidak! Akhir ceritaku seharusnya sederhana: “Dan aku pun hidup bahagia selamanya!” Bukan kekacauan macam ini!







