Dewa sungguh keterlaluan! Pastilah Dia sedang bercanda saat menurunkan titah suci baru yang mengumumkan bahwa “pendamping sejati Yang Mulia Putra Mahkota adalah putri kesayangan Marquis Lurhtella.” Bagaimana mungkin titah suci itu bisa salah? Padahal akulah yang terpilih sejak lahir!
Sejak aku membuka mata di dunia ini, takdirku telah ditetapkan sebagai calon Putri Mahkota. Seluruh hidupku kupersembahkan untuk menempa diri menjadi Permaisuri yang agung kelak. Namun, dalam sekejap mata, segalanya sirna: kekuasaan, status, bahkan tatapan orang-orang terhadapku kini berbeda. Aku sempat berpegang pada satu keyakinan naif—bahwa setidaknya, cintanya padaku takkan pernah goyah. Nyatanya, tanpa keraguan sedikit pun, ia mengirimkan pemberitahuan pembatalan pertunangan kami. Begitu saja kisah kami berakhir. Anehnya, merelakan semua itu terasa jauh lebih ringan dari yang kubayangkan. Akan tetapi…
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Putri Pesentria.”
“……”
“Mengenai pemilik kuil agung… apakah Anda mungkin masih mengingat saya?”
Pria itu, sosok dengan kekuatan ilahi terhebat di seluruh kekaisaran, kini mengulurkan tangannya ke arahku yang terbuang. Haruskah kusambut uluran tangannya ini? Beranikah aku?







